Selamat Datang

Kuucapkan terimakasih untuk teman teman yang mengiklhaskan sedikit waktunya untuk menengok karya poetra PETA....

Islam Dan Budaya Jawa

Jumat, 29 Juni 2012

Dalam bab ini secara khusus akan di bicarakan dua hal yang saling berkaitan,yaitu islam dan budaya Jawa. Pembicaraan tentang sosok Sanggawarsito sebagai titik sentralnya tentu tidak dapat dipisahlepaskan dari dua konteks yang meliputinya, yakni keislaman dan kebudayaan Jawa. Seperti yang di ketahui beliau seorang pujangga besar terakhir dari keratin Surakarta merupakan budayawan jawa sekaligus penganut agama islam.
Perpaduan antara unsure islam dan jawa (kejawen). Sebagai pijakan untuk menganalisis karya karya beliau yang bernafaskan islam tersebut, ketiga hal tersebut perlu di kemukakan meskipun hanya sepintas
ISLAM DALAM BUDAYA JAWA
Hubungan antara Islam dan budaya Jawa dapat di katakana sebagai dua sisi mata uang yang tidak dapat terpisahkan, yang secra bersama sama menentukan nilai mata uang tersebut. Pada satu sisi, Islam yang datang dan berkembang di Jawa di pengaruhi oleh kultur atau budaya Jawa. Sementara itu sisi kedua , budaya Jawa makin di perkaya oleh khazanah Islam. Dengan demikian, perpaduan antara keduanya menampilkan atau melahirkan cirri yang khas sebagai budaya yang singkretis, yakni Islam Kejawen (agama islam yang bercorak kejawen). Pada titik inilah terjadi semacam “simbiosis mutualisme” antara Islam dan budya Jawa. Keduanya (yang kemudian tergabung menjadi satu) dapat berkembang dan di terima masyarakat Jawa tanpa menimbulkan friksi dan ketegangan. Padahal, antara keduanya sesungguhnya terdapat beberapa celah yang memungkinkan untuk saling berkonfrontasi.
Untuk mengetahui lebih lanjut hal itu, pembahasan tentang Islam dalam budya Jawa di bagi atas dua sub bab, yakni tentang sekitar masuknya Islam atau islamisasi di Jawa dan singkretisme antara islam dan budaya Jawa. Sekitar masuknya Islam di Jawa tersebut di anggap perlu di kemukakan meskipun hanya secara sepintas untuk melihat sebuah proses sejarah yang panjang sehingga terjadi singkretisasi yang harmonis.
ISLAMISASI di JAWA
                Tentang masuknya Islam di Jawa masih terjadi perdebatan. Padahal, seperti dinyatakan oleh Ricklefs dalam bukunya Sejarah Indonesia Modern (1995:3), penyebaran agama islam itu merupakan suatu proses yang sangat penting tersebut justru menjadi sesuatu yang yang paling tidak jelas? Menurut Rickles, hal itu disebabkan oleh minimnya peninggalan tertulis dan juga sangat informatifnya sumber sumber yang dapat di peroleh yang menjadi bukti tentang islamisasi di Jawa. Berkaitan dengan hal tersebut masing masing pakar (sejarawan) memiliki dasar argumentasi untuk menetapkan kapan kira kira Islam datang di Jawa.
                Menurut B.J.O Schrieke, Islam masuk di Jawa pada tahun 1416 Masehi. Perkiraan ini sangat mungkin di dasarkan atas berita dari Ma Huan. Pada tahun 1416 Ma Huan, seorang muslim cina, mengunjungi daerah pesisir Jawa dan memberikan suatu laporan di dalam bukunya yang berjudul Ying-yai Sheng-lan (peninjauan tentang pantai pantai samudra) yang di tulis pada tahun 1451. Dalam laporanya disebutkan tentang orang orang islam yang bertempat tinggal di gersik, termasuk orang orang Islam dari barat (Arab,Persia, dan Gujarat atau India) atau orang cina (beberapa di antaranya beragama islam). Hal itu menjadi bukti kongkret bahwa di pusat mapahit ataupun di pesisir, terutama di kota pelabuhan, telah terjadi Islamisasi dan terbentuknya masyarakat muslim dari berbagai ras. Agaknya, pendapat Schrieke ini tidak bertolak belakang pada awal masuknya Islam di Jawa, tetapi bertolak belakang dengan bukti tentang adanya proses Islamisasi yang telah berlangsung di Jawa sehingga masyarakat Jawa di beberapa wilayah tersebut telah membentuk suatru komunitas muslim.
                Berbeda dengan pendapat Schrieke, menurut J.P Moquette, kedatangan Islam di Jawa jauh lebih awal dari perkiraan tahun tersebut. Hal itu trbukti dengan di temukannya batu nisan seorang wanita bernama Fatimah binti Maimun di Leran (Gersik) yang berangka tahun 475 H atau 1082 M. meskipun demikian, hal itu belum berarti adanya prosese islamisasi di Jawa karena tidak da bukti bukti yang menunjukan hal itu.
 Jadi, pendapat Moquette tersebut semata mata di dasarkan pada peninggalan paling kuno yang menyebutkan adanya bukti (orang) Islam telah ada di Jawa. Berkaitan dengan penemuan batu nisan tersebut Ricklefs (1995:3) pun menyaksikan apakah kuburan itu benar benar berada di Jawa atau batu itu di angkut dan di letakan di Leran beberapa waktu sepeninggalan wanita muslim non_Jawa itu karena beberapa alas an, misalnya sebagai pemberat pada sebuah kapal. Selain itu, meurut Simuh (1996:2), jejak jejak sejarah yang hanya berupa nama itu belum bias menggambarkan keadaan agama yang mereka anut dan paham keislamanya.
                Demikianlah, karena sejak akhir abad ke 11 hingga abad ke 13 bukti bukti peninggalan, baik kepurbakalan (prasasti) maupun berita berita dari asing tentang kedatangan Islam di Jawa masih sangat sedikit, seprti juga di kemukakan oleh Rickkles, Islamisasi di Jawa belum dapat di ketahui secara pasti. Schierke mengemukakan ada du kemungkinan masuknya Islam di Jawa, yaitu (1) penduduk pribumi berhubungan dengan pedagang pedagang dan kemudian menganutnya , (2) orang orang asing Asia (Arab,India,Cina) yang telah memeluk agama Islam datang bertempat tinggal secara permanen di Jawa dengan melakukan perkawinan dengan orang pribumi Jawa. 
SINGKRITISME ISLAM DAN BUDAYA JAWA
                Dari pembahasan di depan Islamisasi di Jawa dapat di terima dengan mudah tanpa adanya pertentangan oleh orang orang atau msyrakat Jawa karena ajaranya yang berbau mistik (Tasawuf). Dengan kata lain, karena ajaran tasawuf  bersifat supel dan suka berasimilasi menerima aneka ragam tradisi setempat, ajran ini menarik perhatian masyarakat Jawa. Khusus berbicara tentang Islamisasi di Indonesia, Aceh (1987:5) menyatakan bahwa para penyebar agama pada awalnya datang di Indonesia (Samudra Pasai) telah membawa ajaran tasawuf.

                Dalam bentuk tasawuf itu pula agama Islam di sesuaikan dengan struktur social dan filosofis masyarakat setempat sehingga dengan mudahnya Islam dapat di terima masyarakat tanpa pertentangan (Buchari, 1971:32). Penerimaan secara sukarela ini karena adanya keseuaian antara ajaran tasawuf dengan kepercayaan masyarakat yang bersangkutan. Adapun kesesuaian tersebut adalah adanya paham bahwa manusia dapat bersatu dengan Tuhan (wihdatul wujud) (Hadiwijoyo, 1983:74).


Ipan76 | Tekisik Aneka | Greenboxindonesia

0 komentar:

Posting Komentar