Selamat Datang

Kuucapkan terimakasih untuk teman teman yang mengiklhaskan sedikit waktunya untuk menengok karya poetra PETA....

Dibawah Lentera Hutan Belantara

Sabtu, 19 Januari 2013


sumber: http://sphotos-a.xx.fbcdn.net/hphotos-snc6/6067_10151160693733820_568728153_n.jpg
          Manusia secara biologi terdapat pada goolongan mamalia. Dalam kelas mamalia terdapat dua sub-golongan Primat. Dua sub-golongan tersebut adalah Anthropoid dan Prosimii. Dalam kelas Anthropoid menurut ahli biologi masih dibagi lagi menjadi tiga infrasuku yaitu
infrasuku Ceboid, infrasuku Cereopithecoid,  dan yang terakhir adalah infrasuku Hominoid . Infrasuku Hominoid secara lebih khusus di bagi lagi menjadi dua keluarga yaitu Pongidae dan Homonidae. Dalam sejarah evolusi manusia seperti yang dikatakan oleh teori Darwin manusia terdapat pada kelas Homoniade dengan nama Homo Sapiens, secara lebih khusus Homo sapien dibagi menjadi empat ras yaitu ras Australoid, Mongoloid, Caucasoid, dan Negroid. Dalam bagan 1 dapat dilihat kedudukan manusia sesame makhluk Primat.

Manusia menurut pola pemikiran sosial budayanya yaitu manusia sebagai Animal Symboliticum. Dengan demikian cirri utama manusia bukanlah dilihat dari kodrat fisiknya bahkan kodrat metafisiknya melainkan hasil dari cipta, rasa, dan karsa yang dilakukan manusia dalam proses belajar itulah yang disebut juga oleh Koentjaraningrat adalah kebudayaan.
Dalam kaitanya dengan proses belajar sangat erat dengan pendiikan. Dalam pendidikan terdapat dua arti yaitu arti luas dan arti sempit. Pendidikanl secara arti luas adalah bahwa pendidikan disamakan dengan belajar, tanpa memperhatikan dimana, atau pada usia berapa belajar terjadi atau dapat dikatakan seperti pendidikan non formal, sedang pendidikan dalam arti sempit disamakan dengan persekolahan,  yang lazim dikenal dengan pendidikan formal, yang bergerak dan tingkat pertama hingga mencapai tingkat terakhir perguruan tinggi. Dengan demikian suatu pendidikan formal berlangsung dan sengaja dibuat oleh pemerintah yang di lindungi oleh suatu undang undang negara umumnya bertujuan untuk memajukan suatu negara dan khususnya memberikan pondasi pada manusia untuk masa depanya.
Sejalan dengan pembukaan undang undang dasar 1945 yang berbunyi  segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, Indonesia harus memaknai lebih mendalam tentang undang undang tersebut dan melaksanakanya. Dengan kemerdekaan suatu negara bangsa Indonesia haruslah member kontribusi yang merata terhadap rakyat untuk mengebyam pendidikan tanpa melihat suku, ras, dan agama yang kesemuanya dapat dibunyikan dalam lambang negara pancasila yaitu bhineka tunggal ika.
Suku rimba merupakan salah satu suku yang harus mendapatkan suatu pendidikan, dimana mereka merupakan bagian dari rakyat negara Indonesia. Suku rimba atau suku anak dalam juga sebagai generasi penerus bangsa Indonesia. Oleh sebab itulah mereka perlu mendapatkan suatu pendidikan sebgaimana mestinya rakyat Indonesia. Selain itu Indonesia juga harus peduli kepada anak anak yang berada pada lingkungan , kondisi, dan permasalahan yang berbeda serta dapat memandang persoalan masyarakat adat dari segala arah, termasuk dari cara mereka memandang dirinya sendiri, agar nantinya generasi penerus bangs` seperti suku anak dalam Orang Rimba tidaklah dipandang sebelah mata oleh sesame masyarakat yang menempati negara Indonesia. Serta tidak adanya diskriminasi antar suatu etnik tertentu pada negara Indonesia.
AWAL MULA MASUKNYA PENDIDIKAN DI MASYARAKAT SUKU ANAK DALAM (ORANG RIMBA)


sumber : http://stat.kompasiana.com/files/2010/08/butet-manurung-sekola-rimba.jpg
         Proses masuknya pendidikan pada suku anak dalam atau Orang Rimba tidak serta merta mudah dan langsung di terima. Mengingat bahwa mereka adalah manusia manusia yang hidup dihutan belantara dan sangat minim pengetahuan dengan dunia luar. Selain hal itu masalah adat yang mereka pertahankan dari generasi ke generasi sulit dimasuki suatu hal yang baru seperti pendidikan alternative. Terdapat beberapa fase proses masuknya pendidikan alternative pada suku anak dalam Orang Rimba.
fase awal, Orang Rimba menolak kehadiran Yusak Adrian karena dianggap membawa petaka dan melawan adat. Ketika itu baca tulis belumlah bisa diterima. Jelas kiranya jika berkomunikasi antar budaya tidaklah mudah, karena satu sisi kita melihat dari prespektif kita dan disisi lain mereka melihat dari perspektif mereka sendiri.

Fase kedua jasa Yusak Adrian kemudian diteruskan oleh Saur Marlinang Manurung atau kerap disapa Butet Manurung . Beliau meneruskan jasa Yusak sebagai perintis pendidikan alternative pada suku anak dalam Orang Rimba.  Sama seperti Yusak, awal mula butet memasuki kawasan TNBD ia kesulitan untuk melakukan proses belajar mengajar karena adanya perbedaan kebudayaan khususnya cara pandang tentang suatu kehidupan.

Fase ketika setelah hampir tujuh bulan barulah pendekatan dengan suku anak dalam Orang Rimba butet berhasil memasukan pendidikan alternative BTH (baca tulis hitung ). Berawal dari situlah munculnya suatu pendidikan yang nantinya bisa merubah suku anak dalam Nrang Rimba, mulai dari segi, ekonomi, sosial, dan budaya mereka.

Suatu proses pendidkan antara pendidik dan peserta didik haruslah mempunyai komunikasi yang biak di antra keduanya, entah itu berbeda suku, ras, dan agama demi tercapainya tujuan dari pendidikan. Untuk memperoleh suatu komunikasi yang baik antara pendidik dan peserta didik, peran pendidik sangatlah penting. Seperti yang dikatakan Kathleen Kougl dalam bukunya Communicating In The Classroom Today’s, peran pendidik adalah melakukan proses pelatihan komunikasi antar budaya secara terus menerus dengan diskusi dalam kelas. Dalam proses komunikasi antar budaya pada suku anak dalam Orang Rimba pendidik melakukan proses pelatihan komunikasi antar budaya dengan cara bermain dan berdiskusi, berdiskusi disini tidak serta merta sama halnya berdiskusi seperti halnya yang umum pada pendidikan formal. Berdiskusi pada suku anak dalam Orang Rimba hanya sebatas berdialog dengan diiringi permainan yang membuat peserta didik senang dengan tujuan peserta didik nantinya dapat mencintai suatu pendidikan yang bagi mereka adalah adat luar dengan kata lain bukan adat mereka.

Dalam suatu proses pendidikan tentunya untuk menyampaikan suatu informasi dari pendidik untuk peserta didik sangatlah penting, Menurut Gross Lynn Shafer dalam bukunya Internship Experience mengatakan bahwa bagaimana menyusus sebuah materi ajar yang dapat terbaca sebagai sebuah informasi oleh peserta didik antar budaya. Hal ini sangatlah sulit karena penyusunan meteri ajar haruslah menyesuaikan kebudayaan peserta didik, selain itu juga harus menyesuaikan kepribadian dari masing masing peserta didik. Seperti halnya di masyarakat suku anak dalam Orang Rimba menyusun suatu materi ajar yang dapat di pahami mereka sangatlah penting yang nantinya agar mereka bisa mengenal pendidikan baca tulis hitung. Berbeda dengan sekolah formal metode yang diterapkan pendidik (Butet) pada peserta didik (suku anak dalam Orang Rimba) untuk awal mulai mengenalkan suatu pendidikan pendidik harus melakukan pendekatan dan komunikasi antar budaya yang masih kental sekalli dengan adat serta kepercayaan magis religius.

METODE PENDIDIKAN ALTERNATIVE
sumber : http://sekolahpesisir.files.wordpress.com/2012/01/butet-rimba1.jpg
Lingkungan dan sarana pendidikan merupakan sumber dimana hal tersebut sangat menentukan kualitas dan berlangsungnya usaha pendidikan. Dalam kaitanya dengan lingkungan disini dapat dilihat adanya lingkungan yang bersifat fisik (kebendaan), sosial, budaya, yang semuanya itu berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung terhadap usaha usaha pendidikan.  Dalam hal ini usaha pendidikan haruslah mempunyai metode untuk melakukan proses belajar mengajar. Metode adalah cara yang berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan. metode pendidikan adalah cara cara yang dilakukan sekelompok orang untuk membimbing anak atau peserta didik sesuai dengan perkembanganya kearah tujuan tujuan yang hendak dikehendaki . Dalam pola pengajaran, Butet menerapkan cara belajar yang berbeda, mengenalkan huruf per huruf berdasarkan bentuk dan cara mengejanya. Misalnya, A seperti atap, C seperti pegangan periuk, ucapkan M dengan mulut dikatupkan. Huruf pun dirangkai dalam 14 kelompok berpasangan. Metode pembelajaran ini melibatkan lingkungan sebagai contoh mengingat bahwa tempat proses dimana pembelajaran itu terjadi berada di dalam hutan. Untuk mengatasi kekurangan guru untuk nantinya meneruskan usaha pendidikan pada suku anak dalam Orang Rimba butet menggunakan metode pengkaderan yaitu melatih angkatan pertama peserta didiknya untuk menjadi guru bagi Orang orang Rimba lainya. Jadi dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa suatu proses belajar megajar dapat dilakukan dimanapun dan kapanpun yang terpenting adalah bagaimana menyampaikan suatu informasi atau materi tersebut mampu dicerna dan di pahami oleh penerima.

PERUBAHAN SOSIAL PADA SUKU ANAK DALAM ( ORANG RIMBA)
sumber : http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-snc7/c66.66.828.828/s160x160/417215_10151160731328820_87798583_n.jpg


Setiap kehidupan masyarakat manusia selalu mengalami perubahan karena manusia dan kebudayaan bersifat dinamais (berkembang). Perubahan perubahan pada kehidupan masyarakat tersebut merupakan suatu fenomena yang wajar , karena setiap manusia mempunyai kepentingan yang tak terbatas. Perubahan perubahan tersebut akan nampak ketika adanya tatanan sosial dan kehidupan masyarakat yang lama dapat dibandingkan dengan tatanan sosial dan kehidupan masyarakat yang baru. Seperti halnya masayarakat suku anak dalam Orang Rimba dapat dibandingkan ketika sebelum dan sesudah mendapatkan pendidikan BTH (baca tulis hitung).
Perubahan perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat bisa merupakan suatu perubahan progress ataupun regres. Sepertihalnya yang dikemukakan oleh Gillin dan Gillin bahwa perubahan sosial adalah suatu variasi dari cara cara hidup yang telah diterima, yang disebabkan baik karena perubahan perubahan geografis, kebudayaan material, komposisi penduduk, ideology , maupun adanya difusi penemuan penemuan baru pada masyarakat tersebut. Terjadinya perubahan sosial pada suatu masyarakat pasti terdapat suatu foktor pendorong yang kuat untuk perubahan tersebut. Pada suku anak dalam Orang Rimba faktor perubahan tersebut terjadi karena adanya penanaman paham tentang suatu pendidikan yang sebelumnya tidak mereka tahu, sehingga perubahan tersebut terjadi ketikatertanam  ideology baru yaitu tentang pendidikan. Semula suku anak dalam Orang Rimba berideologi bahwa pendidikan merupakan ideology orang luar bukan ideology dari Orang Rimba. Secara lambat laut dan proses yang panjang akhirnya ideology pendidikan masuk dan diterima oleh suku anak dalam Orang Rimba. adanya pendidikan inilah yang mengakibatkan perubahan perubahan sosial masyarakat suku anak dalam Orang Rimba tentang prespektif mereka akan pentingnya suatu pendidikan.
Perubahan dan perkembangan masyarakat suku anak dalam Orang Rimba tentang pendidikan sangatlah progress terlihat bahwa pada tanggal 13 April 2005 berdirilah SOKOLA dengan status perkumpulan. Kemajuan dalam bidang pendidikan terlihat ketika suku anak dalam Orang Rimba mampu membuat dongeng. Ada sembilan dongeng orisinal yang dibukukan, yang selama ini sudah ada dalam cerita-cerita kelompok Orang Rimba. Mereka menyebut dongeng itu sebagai ande-ande . Tradisi lisan lain yang hidup dalam tradisi orang rimba adalah sloko adat, bedeki (pantun) dan teka-teki .  Selain itu implikasi dari suatu pendidikan tersebut berdampak pada masuknya teknologi pada suku anak dalam Orang Rimba. teknologi seperti alat komunikasi HP (handphone) telah berada di Rimba, dengan adanya teknologi seperti itu lambat laun komunikasi yang dahulu hanya secara sederhana menggunakan kentongan berubah menggunakan HP. Ketika teknologi masuk suku anak dalam Orang Rimba terpaksa menggunakan uang untuk menggunakan teknologi tersebut. jadi jelas kiranya bahwa pendiikan dapat memajukan perekonomian suku anak dalam Orang Rimba. Dengan demikian jelas kiranya bahwa pendidikan itu sepanjang hayat, artinya suatu pendidikan ada sejak manusia ada, dan mengalami perubahan perubahan seiring dengan kemajuan zaman dan pola pikir manusia.


Ipan76 | Tekisik Aneka | Greenboxindonesia

0 komentar:

Posting Komentar