Selamat Datang

Kuucapkan terimakasih untuk teman teman yang mengiklhaskan sedikit waktunya untuk menengok karya poetra PETA....

Pusaka Bendhe Kyai Pradah (Lodoyo)

Minggu, 06 Maret 2016

Foto: Weha
Dahulu kala Indonesia memiliki banyak kerajaan – kerajaan besar, mulai zaman masuknya Hindhu-budha hingga Islam, mulai kerajaan Kadiri, Singosari, Majapahit, Mataram Islam hingga yang sampai saat ini masih bisa kita lihat di daerah Jawa bagian Tengah, Kesultanan Yogyakarta Hadiningrat dan Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Konon ceritanya pada tahun 1704-1719 di Kasunanan Kartasura bertahtahlah seorang Raja yang adiluhung  bernama Sri Susuhunan Pakubuwono I.Beliau memeiliki saudara tua yang bernama Pangeran Prabu. Pada saat Sri Susuhunan Pakubuwono I dinobatkan sebagai raja, Pangeran Prabu yang merupakan saudara tua tidak terima karena bukan Ia yang dinobatkan sebagai pemegang tahta kerajaan. Niat jelek pun timbul dalam hati sanubari Pangeran Prabu untuk memberontak dan menggulingkan tahta yang pada saa itu diduduki oleh Sri Susuhunan Pakubuwono I. Namun nasib malang menghampiri Pangeran Prabu, niat jelek yang ingin dilakukan Pangeran Prabu tercium oleh Sang Raja. Akhirnya Sang Raja memanggil Pangeran Prabu dan menghukumnya. Hukuman itu bukan penggal ataupun cambuk melainkan pengusiran dari wilayah Kasunanan Surakarta.”
“Sebagai hukuman atas niat busukmu, Pergilah kau dari Kasunanan ini Pangeran Prabu. Aku masih berbaik hati, ku bekali engkau sebuah pusaka Bendhe Kiyai Bicak untuk keselamatan perjalananmu. Bawalah permaisurimu dan ku beri satu pembantu Ki Tariman. Pergilah...pergilah jauh Pangeran Prabu.”
Tanpa ada jawaban pembelaan dari Pangeran Prabu, pengawal dengan seketika menyingkirkan Pangeran Prabu dari hadapan Sang Raja. Hari itu juga Pangeran Prabu berkemas dan melakukan perjalanan bersama istrinya Putri Wandansari dan Ki Tariman.
Sang Pangeran Prabu beserta Istri dan pembantunya sudah melakukan perjalanan jauh menuju hutan tenggara. Ditengah perjalanan Sang Pangeran Prabu merasa lelah ingin beristirahat. “Paman, sebaiknya kita istirahat dulu sebelum meneruskan pengembaraan. Dengan senang hati Ki Tariman menyahut, “iya Den, kita beristirahat disini saja dahulu. Sambil meletakan barang bawaan, Sang Pangeran masih sempat menunjukan rasa sayangnya pada Sang istri. “Diajeng Wandansari? “iya Kang Mas. “sini, duduk dan beristirahatlah” dengan senyum kecil layaknya seorang istri bangsawan, Wandansari segera duduk beristirahat disebelah Sang Pangeran.
Mereka bertiga beristirahat untuk melepaskan kelelahan setelah mealakukan perjalanan  jauh. Pada saat mereka beristirahat sembari mengairi tenggorokan dengan air putih dan mengisi lambung perut yang kosong, Sang Pangeran sedikit merasa kaget.
“Astaga!!!”
“Ada apa Kang Mas Prabu?”
“Kang Mas hampir terjatuh Diajeng, pohon buat bersender ini tak mampu menahan tubuhku”.
 “Hati hati Kang Mas, pohon itu masih kecil nanti bisa patah dan Kang Mas bisa terguling”.
 “Iya Diajeng.
Ki Tariman memberi tahu Sang Pangeran “itu pohon “Lo” Den namanya memang masih kecil dan beum terlalu kuat.” Iya Paman, Pohonnya doyong (miring)”. Pohon yang dibuat bersandar Sang Pangeran Prabu, tidak mampu menahan beban tubuh Pangeran akhirnya melengkung. Setelah kejadian itu, akhirnya Sang Pangeran Prabu, menamakan tempat peristirahatan itu dengan sebutan Lodoyong (Pohon Lo yang miring).
Tak lama kemudian setelah rasa capek sudah terhempas angin sepoi-sepoi dan rasa lapar sudah hilang ditelan bekal perjalanan, merekapun melanjutkan pengembaraan berjalan lagi ditengah rindang dan indahnya hutan Lodoyong. Meskipun keliatan alaminya hutan yang elok, hutan tetaplah hutan tempatnya roh roh halus yang hidupna berdampingan dengan kita namun tetaplah beda alam. Langkah kaki terus menapak tanah dengan mata memandang penuh kehati-hatian dan hati seakan mata tombak yang lancip menuju kedepan. Kata demi kata terucap diantara mereka bertiga dengan gurauan kecil sesekali melintas menemani perjalanan ketiganya. Tiba-tiba Sang Prabu yang berjalan paling depan kelopak matanya melesat cepat melihat sebuah tatanan kayu-kayu yang rapi dibawah payung dahan pohon lebat disekelilingnya, ternyata tatanan kayu itu, sebuah gubuk kecil beratapkan rajutan daun-daun ilalang yang sudah mengering.
“Paman, didepan ada sebuah gubuk kecil?”
“iya Den, hamba juga melihatnya, namun apakah ada penghuninya Den?”
“Tak taulah paman, alangkah baiknya kita lihat saja biar rasa penasaran kita terobati.”
“Iya Den, Aden duluan saja, hamba sedikit takut.”
“Ayo paman, saya yang didepan, paman jaga Diajeng.”
“Iya Den.”
Tanpa berfikir terlalu panjang mereka menghampiri sebuah gubuk kecil itu dengan rasa penasaran dan was-was, karena tak ada yang tahu gubuk itu berpenghuni atau tidak. Setelah dekat dengan gubuk itu, Sang Pangeran mengucap salam. Ternyata ada seorang nenek tua yang menjawab lontaran kata salam Sang Pangeran. Mereka bertigapun sesat merasa kaget dan was-was.
“Sampurasun?”
“Iya kisanak, ada apa?”
“Nenek yang menghuni gubuk ini?”
“Iya kisanak, silahkan mampir namun hanya ada air minum saja.”
“Iya terimakasih nek, nenek siapa namnya?”
“Saya Nyi Potrosutro kisanak.”
“Nenek tinggal sendirian?”
“Iya kisanak, nenek sendiri digubuk ini.”
Setelah Sang Pangeran bertanya-tanya dengan Nyi Potrosutro, dan suasana semakin menuju pada dinginya malanm, karena saat itu senja sudah menampakan dirinya mengganti sang surya yang sudah bertugas menerangi bumi setengah hari, akhirnya Sang Prabu terlintas dibenaknya untuk menginap di gubuk Nyi Ptrosutro. Senja yang datang hanya sekejap saja sudah semestinya tergerus oleh langit yang petang. Merekapun, Sang Pangeran Prabu, istri tercintanya Wandansari dan pembantunya yang setia Ki Tariman dipersilahkan masuk kedalam gubuk kecil yang cukup nyaman untuk dijadikan tempat tidur mereka bertiga dan juga Nyi Potrosutro.
Suara binatang-binatang berjenis serangga mulai memainkan melodi dengan pita suaranya menemani empat manusia yang berdadalam gubuk kayu beratapkan ilalang. Sembari menikmati orkestra para serangga, Nyi Potrosutro segera bergegas memasak untuk makan malam mereka dengan dibantu Putri Wandansari. Tak selang beberapa jam, hidangan makan malam sudah siap, mereka makan bersama layaknya sebuah keluarga yang harmonis. Sembari menyantap masakan kolaborasi Nyi Potrosutro dengan Putri Wandansari, mereka berbincang kesana-kemari hingga akhirnya Nyi Potrosutro bertanyakepada Sang Prabu.
“Maaf kisanak kalau saya lancang, sebenarnya kalian ini dari mana, dan mau kemana?”
“Iya nek, saya lupa belum memberitahu asal kami darimana. Sebenarnya saya adalah Seorang Pangeran dari Kasunanan Kartasura, Ini istri saya Diajeng Wandansari dan ini pembantu saya Ki Tariman.
“Astaga, Den maaf saya tidak tahu Kalau Aden, Seorang Pangeran dari Kasuhunan Kartasura.”
“Sudah tak apalah nek, justru saya berterimakasih sudah di izinkan menginap di gubuk nenek. Saya dijatuhi hukuman oleh Raja untuk mengembara disebelah tenggara kerajaan, dan saya membawa Diajeng Wandansari serta Paman Tariman untuk menemani pengembaraan saya nek.”
Tak terasa dengan menceritakan asal muasal Sang Pangeran, makanan yang mulanya masih tersaji penuh di atas tikar anyaman daun pohon gebang sudah habis. Hari semakin larut malam, hawa dingin yang tadinya sembunyi-sembunyi akhirnya berani menampakan diri dengan percaya diri hingga membuat tulang-tulang yang tersusun rapi didalam tubuh mereka merasa tak nyaman. Setelah selesai makan malam, mereka bergegas membaringkan diri menghentikan sitem kerja tubuh dan memejamkan mata untuk menanti sapaan hangat sang surya diufuk sebelah timur keesokan harinya.
Hari pertama menginap di gubuk Nyi Potrosutro berlalu begitu cepat bagaikan pergantian senja menjadi malam. Sang Pangeran, Istrinya Putri Wandansari dan Ki Tariman merasa betah tinggal bersama Nyi Potrosutro dan kebaikan yang terkandung dalam dirinya. Akhirnya untuk beberapa hari mereka tetap tinggal di sebuah gubuk kecil itu dengan tenang sambil membantu Nyi Potrosutro aktivitasnya sehari hari.
Kebersamaan mereka seperti keluarga sendiri, orang Jawa bilang “Rukun Agawe Santoso” (Damai membuat Harmonis). Layaknya seorang kesatria, tugas laki-laki adalah mencari buruan dan kayu bakar. Sang Pangeran dan Ki Tariman selama menginap di gubuk Nyi Potrosutro keseharianya mencari binatang buruan dan kayu bakar. Setelah berburu dan mencari kayu bakar, Putri Wandansari membantu Nyi Potrosutro menyulap hasil buruan menjadi hidangan yang nikmat untuk dimakan bersama-sama.
Seperti perjalanan sang waktu, mulai sang surya memunculkan dirinya disebelah ufuk timur dan berjalan hingga di ufuk barat digantikan dengan senja merah kekuningan dan hingga akhirnya malam pun menyapa alam semesta. Kegiatan merekapun dilalui seperti itu, berburu binatang dan mengolah menjadi hidangan setiap harinya.
Pada suatu hari Sang Pangeran merasa penasaran dengan hutan Lodoyong itu, karena banyak binatangnya dan indah alamnya. Akirnya Sang Pangeran memutuskan untuk mencari tempat yang tenang dan indah sebagai tempat berwisata. Sag Pangeran mengajak Ki Tariman untuk menemaninya seperti biasanya saat-saat berburu.
“Paman, saya ingin mengajak paman pergi mengelilingi hutan Lodoyong ini paman”.
“Iya Den, tapi untuk Aden mengelilingi hutan yang rimba ini?”
“Saya mencari tempat yang tenang dan sekalian bisa digunakan sebgai perenungn paman.”
“Ow, begitu Den, tunggu sebentar saya ambil peralatan berburu dulu, siapa tahu nanti dijalan bertemu dengan binatang.”
“Iya paman.”
Sembari menunggu Ki Tariman menyiapkan peralatan berburu, Sang Pangeran mengambil pusaka yang dibawanya dari daerah asalnya, sebuah Bendhe Kiyai Bicak (salah satu alat pada gamelan). Konon ceritanya disetiap kerajaan Jawa selalu memiliki pusaka-pusaka berupa Keris, Tombak, Gong, dan Bendhe salah satunya. Gong dan Bendhe selalu dipukul untuk memberikan tanda aba-aba penyerangan pasukan atau tanda dimulai dan berakhirnya peperangan.
Tak lama kemudian, Sang Pangeran dan Ki Tariman berangkat menelusuri hutan Lodoyong dengan membawa Bendhe Kiyai Bicak dilengkapi peralatan berburu. Hutan Lodoyong yang sangat rimba itu banyak sekali dihuni oleh beraneka ragam binatang, paduan suara burung-burung dengan aneka warna pada bulunya, nyaring berbunyi dan menari di ranting-ranting pohon yang menjulang kelangit seakan seperti menara kerajaan.
Perjalanan mereka belum menemukan apa yang diinginkan Sang Pangeran, binatang buruan untuk dimasakpun tak mereka temui, hanya rasa lelah yang menghampiri mereka. Ki Tariman sangat kelelahan karena tenaganya tak seperti waktu muda dahulu, langkah dua kaki Ki Tariman detik demi detik semakin melambat tanpa diketahui oleh Sang Pangeran. Hanya beberapa menit kemudian Sang Pangeran menengok kebelakang dan ternyata dia berjalan sendirian tak seperti ketika berangkat, jalan berdua dengan Ki Tariman. Sang Pangeran kaget dan bingung dimana Ki Tariman menghilang. Apakah Ki Tariman baik-baik saja? Apakah Ki Tariman diculik binatang buas? Apakah Ki Tariman tersesat? Sangat bingung, cemas bercampur didalam benaknya, seperti uletan rujak Jawa (makanan tradisional Jawa). Sang Pangeran mencoba berteriak memanggil ki tariman barangkali suaranya terdengar seperti gemuruh gesekan daun-daun pohon yang terhempas angin.
“Paman?”
“Paman?”
“Paman Tariman?”
“Paman...Ta...riman...?”
Berkali-kali teriakan Sang Pangeran memanggil Ki Tariman bagaikan dengungan bunyi gong yang menggema-gema, namun teriakan itu tak ada sahutan sama sekali. Sang Pangeran semakin merasa cemas dan kebingungan, untunglah Sang Pangeran bisa menenangkan diri untuk berfikir bagaimana caranya menemukan Ki Tariman. Hutan yang ramai dengan deretan-deretan Pohon berdiameter kurang lebih setengah meter, hanya suara-suara binatang berbagai jenis dan gesekan daun-daun terhempas angin, rasa gelisah, cemas semakin membawa suasana mistis. Hanya dengan menenangkan dirilah Sang Pangeran bisa berfikir dengan jernih. Hingga akhirnya terlintas dibenak Sang Pangeran untuk memberikan tanda suara yang lebih keras, barangkali Ki Tariman mendengar sumber suara itu dan mendatanginya. Kali ini Sang Pangeran Tidak berteriak melainkan memukul Pusaka yang dibawanya sebuah Bendhe Kiyai Bicak.
“Gong”
“Goooooong”
“Gooooooooooong”
Layaknya suara istrumen musik gamelan, Bendhe Kiyai Bicak menggema bagaikan raungan binatang berkulit selang-seling hitam dan kuning seperti raja hutan. Beberapa detik setelah pusaka Bendhe Kiyai Bicak dipukul, bukan Ki Tariman yang datang, tanpa terduga dalam benak Sang Pangeran, yang datang justru sang raja hutan, macan (harimau) besar bertaring dengan suara seperti orang mendengkur waktu tidur malam hari. Dengan cepat dan kilatnya layaknya kecepatan cahaya, rasa cemas dan bingung Sang Pangeran akan hilangnya Ki Tariman hilang seketika. Bukan ketenangan yang menggantikannya melainkan rasa takut dan serba ta menyangka bahwa yang datang adalah harimau ganas. Harimau semakin mendekat, tak ada pilihan kecuali hanya diam ditempat dengan rasa takut. Harimau sudah dekat sekali hanya berjarak satu jengkal tangan mulutnya membuka dan menunjukan taring tajamnya.
Tak disangka-sangka sang raja hutan yang terkenal dengan keganansanya justru mengusap, menjilat, dan menggigit-gigit manja pada celana hitam berlapis kain batik bermotif parang rusak. Sang Pangeran merasa kagum dan terheran melihatnya. Kesaktian pusaka Bendhe Kiyai Bicak memang sangat ampuh hingga bisa meluluhkan keganasan sang raja hutan. Seketika teringat kembali dengan Ki Tariman, Sang Pangeran mengungkapkan isi hatinya kepada sang raja hutan.
“Aku sangat gelisah, wahai raja hutan.”
“Aku, kehilangan paman Tariman dalam perjalanan dan aku juga tak tahu jalan menuju gubuk Nyi Potrosutro.”
Sang raja hutan kembali menggigit celana Sang Pangeran, kali ini bukan gigitan manja melainkan menarik-narik Sang Pangeran. Sang Pangeranpun kaget dan seketika berdiri lalu mengikuti sang raja hutan berjalan langkah demi langkah. Terus-menerus mengikuti sang raja hutan menelusuri rimba raya hutan Lodoyong hingga akhirnya sampailah pada gubuk Nyi Potrosutro.
“Berkat bantuanmu (harimau), akhirnya aku kembali lagi di gubuk Nyi Potrosutro.”
“Terimakasi , kau (harimau) telah mengantarku sampai disini, karena kebaikanmu, akan ku ukir namamu dalam Bendhe ini. Ku ganti nama Bendhe ini menjadi Bendhe Kiyai Macan.”
Sang raja hutan kembali berjalan masuk kedalam rimba raya hutan Lodoyong, dan Sang Pangeran pun lalu masuk ke dalam gubuk Nyi Potrosutro. Ternyata di dalam suasana sangat mengharukan, Nyi Potrosutro dan Ki Tariman sedang menenangkan Putri Wandansari yang menangis karena Sang Pangeran belum juga kembali. Suara gesekan telapak kaki dengan tanah Sang Pangeran terdengar oleh kepekaan Putri Wandansari.
“Kang Mas....?”
“Aku sudah kembali Diajeng, jangan khawatir.”
“Kang Mas tidak kenapa-kenapa?”
“Tidak Diajeng, aku terselamatkan oleh sang raja hutan (harimau).”
Ki Tariman merasa bersalah karena terpisah dengan Sang Pangeran dan tidak bisa mengawal perjalanan Sang Pangeran.
“Maafkan, hamba Den, karena teledor mengikuti langkah Aden.”
“Tak apalah paman, ini juga salahku yang terlalu cepat berjalan hingga paman tak bisa mengikuti. Yang terpenting saya sudah kembali dengan selamat paman.”
“iya Den.”
Setelah tragedi mengharukan di gubug Nyi Potrosutro itu, malamnya Sang Pangeran berfikir untuk melanjutkan perjalanan pengembaraanya. Karena daerah hutan Lodoyong sudah memberikan pengalaman dan pelajaran bagi Sang Pageran, Bendhe Kiyai Macan ditinggalkan dan dititipkan Nyi Potrosutro sebagai pusaka jika nantinya terjadi sesuatu di hutan yang rimba raya itu.
Mentari pagi dengan ceria menyapa gubuk Nyi Potrosutro, melaui celah-celah kecil pada deretan susunan kayu jati, cahaya yang bertubuh langsing masuk menerangi ruang dalam gubuk itu. Empat insan yang dalam ilmu biologi disebut manusia itu dibangunkan oleh cahaya mentari yang memaksa mata untuk menunjukan kelopaknya. Sebelum kepergian Sang Pangeran, Putri Wandansari dan Ki Tariman, mereka masih sempat duduk melingkar dengan santapan makanan yang terus memanggil-manggil untuk diahap. Sembari mereka makan, Sang Pangeran mewakili berpamitan dan menitipkan Bendhe Kiyai Macan pada Nyi Potrosutro.
“Nek, kami mengucapkan terimakasi, karena nenek telah mengizinkan kami bertiga singgah hingga berhari-hari di gubuk nenek.”
“Iya Den, sama-sama.”
“Kami ingin melanjutkan pengembaraan nek.”
“Loh, kenapa Den, apa tidak terlalu cepat Aden berpamtan?”
“Tidak nek, saya mau menuju ke daerah Timur (Pakel). Sebelum saya melanjutkan pengembaraan, saya titipkan pusaka Bendhe Kiyai Macan pada nenek untuk dijadikan tameng jika suatu saat di hutan Lodoyong ini terjadi sesuatu.”
“Iya Den, saya akan merawatnya, terimakasih.”
Ada pertemuan pastilah ada perpisahan, memang alam semesta ini semuanya serba seimbang. Sang Pangeran dengan diikuti Putri Wandansari dan Ki Tariman, melanjutkan pengembaraanya ke daerah Timur. Sebelum melangkahkan kaki melewati pitu mungil gubuk itu, Sang Pangeran berpesan kepada Nyi Potrosutro agar memandikan pusaka Bendhe Kiyai Macan pada bulan-bulan tertentu.
“Nek, pada bulan 12 Robiulawal (maulid nabi) dan 1 Syawal, mandikanalah pusaka Bendhe Kiyai Macan dengan kembang setaman (bunga tujuh rupa). Agar bisa menumbuhkan ketenangan di hutan Lodoyong ini.”
“Iya Den, saya akan memandikan dan merawatnya.”
Pesan Sang Pangeranpun menjadi saksi bisu perpisahan Nyi Potrosutro dengan ketiga pengembara dari Surakarta itu. Pengembara itu melanjutkan perjalanan dan Nyi Potrosutro dengan ditemani pusaka Bendhe kiyai Macan tetap tinggal dihutan rimba raya Lodoyong.
Beberapa tahun berlalu, Nyi Potrosutro semakin bertambah usianya dan banyak pendatang yang membabat hutan Lodoyong untuk dijadikan tempat bermukim. Denyut nadi sudah terhenti, pola angin yang masuk melalui hidung dan dicerna oleh paru-paru hingga akhirnya kembali keluar melalui hidung sudah tidak terjadi lagi, Nyi Potrosutro meninggalkan alam semesta ini untuk selanjutnya menuju alam baka. Sebelum Nyi Potrosuto meninggal dunia, Bendhe Kiyai Macan dititipkan disertai amanat Sang Pangeran kepada Ki Rediboyo di Ngekul (hutan Lodoyong bagian barat laut). Secra turun-temurun pusaka itu dititipkan, setelah dirwat oleh Ki Rediboyo selanjutnya dititipkan pada Ki Dhalang Rediguno di Kepek (hutan Lodoyong bagian Selatan). Dari Ki Dhalang Rediguno kemudian dititipkan lagi pada Kiyai Imam Sampurno.
Pada suatu hari, Kiyai Imam Sampurno mendapat undangan untuk datang ke Kasunanan Surakarta. Karena kemungkinan akan ditinggal dalam waktu yang lama pusaka Bendhe Kiyai Macan dititipkan pada saudaranya di daerah Sukoanyar yang bernama Kiyai Imam Seco. Beliau adalah seorang wakil penghulu Blitar pada masa jamanya.
Seperti Nyi Potrosutro yang semakin hari semakin tua hingga akhirnya meningga, Kiyai Seco pun menyusul Nyi Potrosutro di nirwana. Sebelum meninggal pusaka Bendhe Kiyai Macan dititipkan pada Raden Kertorejo. Hingga suatu saat Raden Kertrejo meletakan Bendhe Kiyai Macan di sebuah sanggar yang berada di kelurahan Lodoyo Kecamatan Sutojayan, karena daerah Sukoanyar pada waktu itu masih berupa rawa-rawa.
Sampai saat ini, pesan yang disampaian Sang Pangeran kepada Nyi Potrosutro agar memandikan pusaka Bendhe Kiyai Macan pada bulan-bulan tertentu masih dilakukan oleh masyarakat Lodoyong. Seiring berjalanya sang waktu roda berputar Hutan Lodoyong sudah banyak permukiman nama Lodoyong pun berubah menjadi Lodoyo. Pada 12 Robiulawal peringatan Mauid Nabi Mohammad S.A.W dan 1 Syawal hari raya umat Islam pusaka Bendhe Kiyai Macan dimandikan dengan bunga tujuh rupa dengan berbagai ritual adat setempat.
Pada suatu hari, rakyat Lodoyo digemparkan dengan hilangnya pusaka Bndhe Kiyai Macan tak tau kemana bagaikan tertelan bumi. Rakyat semakin takut jika Bendhe Kiyai Macan hilang akan tidak ada lagi yang melindungi rakyat dari bahaya-bahaya roh halus dan wabah penyakit yang melanda Lodoyo. Kegemparan rakyat sampailah terdengar di telinga seorang kisanak yang memiliki nama Kiyai Pradah. Beliau adalah orang yang sakti mandraguna dan belum ada yang menandingi kesaktianya. Kiyai Pradah memiliki pusaka sebuah tombak yang selalu dibawa kemanapun Ia pergi. Mendengar hilangnya pusaka Bendhe Kiyai Macan, Ia berkeras diri untuk mencarinya agar rakyat Lodoyo bisa menemukan kembali ketenangan di hati sanubari. Akhirnya dengan kesaktianya yang dikolaborasikan dengan pusaka tombak miliknya. Tombak bercampur aduk dengan kesaktian yang ditancapkan pada sebuah tanah ahkirnya mengenai sebuah benda keras, ternyata takdisangka-sangka benda keras itu adalah kempul laras lima (Bendhe Kiyai Macan).
Sejak saat itulah, nama pusaka Bendhe Kiyai Macan berubah menjadi Bendhe Kiyai Pradah. Ternyata tutur kata Sang Pangeran pada saat sang raja hutan (harimau) berjasa kepadanya ditirukan oleh rakyat Lodoyo. Berkat kebaikan, keberanian Kiyai Pradah, akhirnya namanya terukir dalam pusaka Bendhe itu hingga sampai saat ini.
Daftar Pustaka

Crita Rakyat Lodoyo.

Cariyos Babad Pusoko Kyai Pradhah Ing Lodoyo Karya Panitia Siraman Kiyai Pradhah tahun 2000.
Cerita Rakyat Dari Blitar (Jawa Timur) Karya Edy Santoso dan Sunarko Budiman.



Ipan76 | Tekisik Aneka | Greenboxindonesia

0 komentar:

Posting Komentar